Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 April 2011

Tentang Aku, Cinta dan Dia

"Dia berikan segalanya untukku, waktu dan tenaga ia abdikan hanya untuk memujaku, sayang cinta tak kunjung menghampiri, cinta tak pernah kembali setelah hati ini tersakiti"

***

Rangga, pria bertubuh tinggi yang sedang berlatih untuk masuk dalam akademi kemiliteran. Aku bertemu dengannya 5 tahun lalu, saat itu perlahan-lahan ia bantu mengobati hatiku yang terluka. Setiap hari, aku menemaninya berlatih mengelilingi lapangan di kota itu, ia berjuang dengan segenap tenaga untuk menjadi bagian sebagai pahlawan negara. Tak jarang, aku ikut menemaninya berlari, peluh keringat aku korbankan agar ia tak mengeluh untuk berjuang. Hingga akhirnya Rangga diterima dalam akademi kemiliteran. Rasanya sangat senang, melihat ia dilantik dan mengikuti upacara penerimaannya. Saat upacara itu, aku dikenalkan dengan kedua orang tuanya, ada rasa haru dan bangga yang menyelimuti hati.
Tidak lama setelah diterima sebagai pahlawan negara, ia dipindahkan ke sebuah pulau kecil di negeri ini. Sedih dan ketakutan terus menghampiri. Sampai akhirnya, ketakutan itu menjadi nyata, 6 bulan setelah kepergiannya, dia benar-benar pergi dari hidupku, membawa semua cinta yang telah kuserahkan padanya,sampai tak ada yang tersisa. Ia hanya meninggalkan luka hati yang mendalam, hingga sulit untuk terobati.

***
Setelah kepergiannya, hampir setiap hari aku menangis, mataku bengkak, dan rasanya aku ingin menabrakkan diri ke mobil-mobil yang lalu lalang, atau aku terjun dari lantai kosanku. Tapi tidak ada keberanian untuk melakukannya, untuk benar-benar bunuh diri, dan melupakan selamanya kenangan tentang cinta.

***
3 bulan setelah ia pergi,cinta sempat kembali. Tapi hati ini terlalu naif untuk mengakui, jika akupun masih mengharapkannya. Sampai suatu ketika, aku mendapat kabar jika ia sudah mendapatkan pelabuhan hati yang lain. Begitu mudah ia merampas cintaku, dan membuangnya entah kemana. Kini, ia merampas cinta yang lain, Aku menangis, mengharapkannya kembali, tapi sepertinya cinta tidak akan datang lagi. Ia melupakan hati yang sedang menunggu janji. Seandainya saja cinta tahu bahwa hatiku telah terpatri pada janji yang pernah cinta ucapkan. "Dengan siapapun kamu pacaran disana, dan dengan siapapu aku pacaran disini, aku akan kembali padamu"


***
2 tahun kepergian rangga, aku bertemu dengan dia. Pria tampan dan baik hati. Ia korbankan seluruh waktu dan tenaganya demi aku. Tidak jarang ia lawan hujan badai yang menerjang, ia selalu berada disampingku saat aku membutuhkan bantuan. Tak pernah bosan ia mendengarkan kisah ku tentang cinta, tentang sebuah hati yang masih menaruh harapan pada sebuah janji. Namun Ia tetap memperjuangkan cintanya dan menaruh bibit cinta dihati ku, namun sayang, benihnya masih belum bisa berkembang. Entah sampai kapan hati ini, dapat menerima bibit cintanya.
Readmore »

Sabtu, 02 April 2011

Andai ia tahu

Hp toni berbunyi,bersamaan dengan ia mengeluarkan mobil dari parkir rumahnya,ternyata dari sahabatnya wanda. Wanda meminta Toni untuk datang k rumahnya nanti malam,karena ia sedang butuh teman untuk mengungkapkan keluh kesahnya, Toni tak bisa menolak ajakan Wanda,malah tak pernah sama sekali ia bilang tidak bisa demi Wanda. Sejak pertemuanya di kampus dulu,Toni memang sudah menaruh hati pada Wanda. Namun sayang,tak pernah sedikitpun Wanda mengerti perasaanya. Memang Toni tidak pernah mengungkapkan secara terang-terangan perasaanya pada Wanda,tapi seandainya Wanda peka,seharusnya ia bisa menangkap sinyal-sinyal cinta yang Toni pancarkan. Tonipun,tidak punya keberanian untuk mengatakanya,karena dalam benaknya tidak mungkin wanda akan menyukainya. Setiap kali bertemu,Wanda selalu bercerita tentang wanita-wanita yang ia temui hingga jatuh hati. Dari topik obrolan itulah yang mengurungkan niat Toni mengungkapkan perasaanya. Terlebih ia sangat begitu mencintai dan menyayangi Wanda,ia tak mau Wanda menjauhinya,hanya karena perasaan emosionalnya yang salah,telah diam2 menaruh hati pada sahabat prianya.
Malamnya setelah bekerja,Toni menepati janji untuk menemui sahabatnya,Wanda. Saat bertemu,wanda dengan muka kesedihan menceritakan bahwa ia telah putus dengan pacarnya yang telah ia pacari selama 1tahun terakhir ini. Ia kecewa dengan pacarnya yang dengan sepihak memutuskannya karena sudah mendapatkan pria lain yang lebih mapan. Toni mendengarkan dengan seksama ungkapan-ungkapan kekesalan wanda, meskipun dalam hati ia sangat senang setidaknya terbukalah peluang harapan untuk bisa selalu dekat dengan Wanda. Sampai tengah malam, Wanda masih berulang-ulang kali mengungkapkan kesedihannya, sampai akhirnya Wanda pun meneteskan air mata. Toni kalut tidak tahu harus berkata dan berbuat apa, yang ia lakukan akhirnya adalah memeluk Wanda berharap pelukannya dapat membantu.
Readmore »

Kamis, 06 Agustus 2009

beri gue satu kesempatan

Allan praditya memainkan jari-jari nya di senar gitar yang sudah hampir putus. Keseriusan tertampak dari wajahnya mencari kunci agar alunan gitar itu terdengar indah dan sesuai dengan lagu yang baru dibuatnya. Setelah selesai, ia meletakkan gitar nya di bawah, kemudian mengambil sebatang gumpalan tembakau yang dipenuhi racun-racun berbahaya di meja. Ia menyedot dalam-dalam gumpalan itu dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanan nya sibuk memencet tuts-tuts nomor di telpon genggamnya.
“halo…” kata alan membuka pembicaraan dengan orang yang ada di seberang telpon.
“hay lan..” sahut gadis itu
“malam ini nge-jam yuks” ajaknya
“oke jam berapa?”
“jam 8 di studio campretos ya, gue langsung tunggu lo disana aja,ok!”
“sip”
Rara, nama gadis yang ditelpon alan. Telah 1 tahun alan dekat dengannya, telah belasan kali alan menembaknya, namun disayangkan tak sedikitpun rara menaruh rasa pada allan. Meskipun berjuta-juta lagu telah dibuat allan dan dipersembahkan untuknya, ya apalah daya tak secuil pun bongkahan dinding es di hati rara meleleh.
Gadis itu yang ia kenal saat acara ulang tahun sahabatnya, ketika itu rara manggung bersama bandnya yang sudah lumayan terkenal. Permainan gitar rara yang memukau membuat alan jatuh hati pada pandangan pertama. Sehingga, alan merayu sahabatnya untuk mengenalkan nya dengan rara.
Satu cara paling ambuh buat Allan agar Rara mau di ajak keluar bersamanya adalah bermain music bersama(nge-jam).

***

Alan dibantu dengan beberapa temannya sedang sibuk menghias studio. Atap ruangan nya ia tempel dengan kertas kado, di dinding di pasang sebuah kain bertuliskan “HAPPY B’DAY”. Di bagian tengah ruangan terdapat sebuah meja yang menyerupai bodi gitar dengan dua buah kursi kayu yang dipasang berhadapan. Meja tersebut dilapisi taplak bermotif bunga-bunga, diatas meja diletakkan blackforest yang dikelilingi dengan lili-lilin kecil. Sedangkan alat-alat music studio diselimuti dengan kain-kain putih.
Tampak lah studio itu menjadi ruangan yang romantic, dipenuhi dengan lilin-lilin yang diletakkan di pinggir ruangan serta petikan bunga yang berserakan dilantai. Ruangan tersebut sengaja tidak dihidupkan lampu untuk menambah kesan syahdu.

***

Di tempat lain..
Rara baru pulang dari bermain skate board saat jam dinding menunjukkan pukul 7 malam. Teringat akan janjinya dengan alan, ia pun dengan cekatan menyambar handuk yang digantung dibelakang pintu untuk segera mandi.
Sekitar 15 menit ia pun selesai mandi, kemudian mengambil baju hitam gombrong yang ada di lemari serta memakai celana jins hitam rombeng yang telah dipakainya seharian ini. Tak luput, ia mengenakan gelang-gelang antic kesayangan nya yang ia beli di emperan toko.
Itulah rara, gaya dan dandanan nya yang cuek, dipadu dengan rambut pendek berwarna kuning membuat ia tampak seperti cowo dari kejauhan. Namun paras mukanya yang cakep dan keahlian bermain gitar serta sifatnya yang baik mampu menyihir alan sampai alan mati-matian mengejar cintanya.
***
Usai mendekor studio, Alan menanti Rara sambil sesekali melihat jam di tanganya. Tampak di wajah nya, kecemasan menanti Rara yang sudah telat 10 menit.
Tak beberapa lama kemudian, rarapun datang bersama motor bututnya. Senyum mengembang dari bibir alan melihat pujaan hatinya telah datang.
Saat Rara membuka pintu studio,
“SURPRISE….” Teriak teman-teman nya yang ada di dalam studio bersamaan.
“wow… ini pasti kerjaan lu ya lan?” Tanya Rara penuh selidik
Alan menjawab dengan senyum cengengesan nya. Berikutnya, acara tiup lilin dan potong kue dilaksanakan.
Sekitar pukul 10 malam, acara kejutan ulang tahun itu selesai, semua orang pulang. Yang tertinggal di studio hanyalah rara dan alan.
Saat Rara hendak pulang mengikuti jejak temannya yang sudah lebih dulu membuka pintu, Alan menarik tangan Rara.
“ra… jangan pergi dulu… ada yang pengen gue omongin ke lu” ujarnya seraya memeganggam tangan Rara erat
“ngomongin apaan lan?” Tanya Rara penasaran
“gue pengen bilang kalo gue suka sama loe. Terserah lu mau ngomong gue gak tahu malu karena udah berkali-kali nembak lu dan udah berkali-kali juga lu nolak gue. Tapi gue pengen, jadi pacar lu ra.”
“tapi… tapi gue gak bisa lan. Gue gak cinta sama lu..”
“apa yang ngebuat lu gak bisa cinta sama gue? Apa ra? Sumpah ra gue sayang banget sama lu… kenapa lu gak bisa ngerti..”
“gue taw lan, gue taw,, tapi gue gak bisa lan…”
“iya kenapa” Tanya alan dengan suara yang keras “kenapa ra?” Tanya nya lagi kali ini dengan suara lirih, karena rara tak kunjung menjawab..
“oke, kalo lu maksa gue.. selama ini, gue juga udah berusaha buat cinta sama lu lan, saat lu pertama kali ngungkapin perasaan itu ke gue. Saat gue ngeliat keseriusan lu buat dapetin cinta gue… Selama ini gue berusaha banget buat menemukan getar-getar cinta itu… tapi lan.. gue gak bisa… gue gak bisa cinta lu karena gue… karena gue pikir gue gak cinta cowo..Gue taw, lu mungkin kaget, lu mungkin kecewa sama gue lan.. tapi kisah hidup nyokap gue yang ditinggalin bokap kawin lagi, serta kelakuan kakak cowo gue yang pernah merkosa gue waktu gue kecil, ngebuat gue trauma buat percaya sama cowo lan.. gue trauma.., terlebih pergaulan gue yang lebih deket dengan kalian ngebuat gue taw seluk beluk kalian, gue jadi bener-bener ilfeel lan..” urai Rara sambil berurai air mata..
Alan kaget dan terkulai lemas. Ia tatap wajah Rara dalam-dalam berharap Rara menarik kembali ucapan nya. Namun, Rara tak kunjung berkata-kata. Rara malah membalikkan badannya dan berlari menuju pintu studio. Dengan cekatan, Alan mengejar rara dan menarik tangan Rara agar wanita itu tidak pergi meninggalkan nya.
“gue cinta sama lu ra, gue gak peduli lu bilang lu gak suka cowo ataupun lu lesbi. Gue cinta sama lu, gue janji.. gue akan ngebuat lu percaya bahwa gak semua cowo kayak bokap lu yang jahat karena udah ngeduain nyokap lu, gue gak akan kayak kakak lu yang bajingan. Gue janji, gue akan merubah persepsi lu tentang kaum gue… gue sayang sama lu.. beri gue satu kesempatan.. please ra..” ujar Allan penuh pengharapan
Readmore »

aku bukan orang gila

Sudah berulang kali ku katakan pada mereka, bahwa AKU TIDAK GILA.. aku hanya sedang menunggu ibuku yang pergi ke pasar untuk membelikan komik conan terbaru yang sudah ku minta dari seminggu yang lalu.

Ibu sudah berjanji padaku, jika aku rangking satu ia akan membelikan komik itu, makanya dari seminggu yang lalu setelah ku terima raport aku terus merongrong ibu untuk dibelikan komiknya.

“aku gak gila yah” ujar ku berulang kali setiap kali ayah memberi makan kepadaku sambil menatapku iba..

“bilang pada mereka yah, aku tidak akan meminjamkan komik itu, jadi mereka tak usah berebutan untuk mengemis padaku, tidak usah pula mereka memberikan batu-batu indah itu yah karena apapun yang akan mereka berikan padaku, aku tetap pada pendirianku untuk tidak akan meminjamkan komiknya”

Sambil bernyanyi lagu dari soundtrack film conan aku menunggu ibu di pojok kamarku yang seperti singgah sana raja ini. Aku dilayani seperti seorang ratu karena tiap aku lapar, maka ayah ataupun kakak-kakaku akan datang dan membawa sepiring nasi dengan lauk yang aku suka.

Ayah sangat takut akan ada yang menjahiliku jika aku keluar rumah, maka dari itu ayah mengikat kaki dan tanganku dengan kencang. Ia takut sekali aku pergi jauh darinya..

***

“sudah 8 tahun ia mengalami gangguan jiwa” kata ayah kepada seorang wanita cantik yang memegang sebuah microfon di tangannya

“sebelumnya maaf bapak, kalo boleh taw kenapa ya adik ini menjadi gila?” Tanya wanita itu sambil tersenyum manis padaku

“dia gila, karena ibunya meninggal dunia saat perjalanan membeli komik conan edisi terbaru yang ia minta” ujar ayah sambil sesekali menatapku dengan penuh kasih sayang

“lalu tangan adik ini diikat karena apa ya?” Tanya nya lagi sambil berjalan mendekati aku yang menatapnya dengan tajam

“kalo tidak diikat, ia akan pergi dari rumah. Waktu itu kami coba untuk tidak mengikatnya, lalu ia pergi, kami pun mencari kesana kemari, sampai seminggu kemudian baru kami temukan ia sedang tidur dipinggir jalan pasar dengan pakaian compang camping seperti habis di perkosa. Untuk menjaganya, kami terpaksa mengikatnya” kata ayah lirih sambil menteskan air mata nya.

Akupun menjadi sedih melihat ayah menangis, aku ikut merasakan kepedihan ayah, dan untuk itu aku menemani nya menangis..

Ayah mengelap air matanya, lalu ia berjalan menghampiriku yang sedang menangis meraung-raung, sambil merangkul tubuhku ia menatapku penuh arti. Aku tahu maksud dari tatapannya, yang kurang lebih artinya “nak, tak perlu kau menangis karena tadi yang kulakukan bukanlah menangis, ayah mu yang kuat ini tak mungkin menangis nak. Tadi ada debu yang membuat mata ayah pedih”

Hanya dengan rangkulan dan tatapan nya itu, tangisan ku pun reda.

“dia gadis yang cantik, sayang dia gila” ucap cowo yang sedari tadi sibuk mengambil video ku yang sedang duduk manis.

“hus..” kata wanita pembawa microfon itu sambil menginjak kaki cowo pencuri gambarku. “apakah anak anda pernah dibawa ke psikolog atau ke dokter jiwa?” Tanya nya lagi

“Wanita ini pastilah orang yang suka ingin tahu” pikirku

“selama setahun kami sekeluarga membawa ia ke psikolog-psikolog ternama, ustad-ustad atau pun segala bentuk alternative yang ditawarkan untuk orang yang mengalami gangguan jiwa. Tapi gak ada hasil”

“oh begitu.. baiklah bapak.. mungkin cukup sekian wawancara saya. Terima kasih untuk waktu yang sudah bapak luangkan. Saya mohon pamit dulu” ujarnya sambil menjabat tangan ayah yang penuh kehangatan.

Kemudian wanita dan cowo berkamera itupun pergi meninggalkan kamarku.

***

“Ayah aku bertemu ibu, ia membawa komik yang aku inginkan. Tapi, ia didampingi oleh para lelaki tampan bersayap. Siapa dia yah? Ah, entahlah yah, tapi aku senang karena akhirnya aku bertemu dengan ibu yah.. ia memelukku hangat dan mengajakku terbang ke angkasa.. aku tak pernah menyangka bahwa ibu bisa terbang. Tapi mengapa ayah terlihat tidak bahagia? Ayah malah menangis disampig gumpalan kain putih itu.”

Readmore »